VIRAL !! SISWI PELOSOK GUNUNGKIDUL JUARA 1, BIKIN MY ESTI WIJAYATI TERSENTUH
Gunungkidul TV – Di ujung tenggara Kabupaten Gunungkidul, tepatnya di Padukuhan Joho Kalurahan Songbanyu, Kapanewon Girisubo, ada sebuah cerita kecil tumbuh menjadi kisah besar. Kamis (26/03/2026) menjadi hari yang tak biasa bagi SD Negeri Joho sekolah sederhana di tengah sunyi perbukitan yang mendadak menjadi pusat perhatian.
Kedatangan My Esti Wijayati, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, bukan sekadar kunjungan formal. Ia datang membawa misi: memastikan program revitalisasi sekolah senilai Rp 1,1 miliar benar-benar memberi dampak nyata. Namun lebih dari itu, ia pulang dengan sesuatu yang jauh lebih berharga harapan.

Disambut hangat oleh Lurah Songbanyu Giyarno, jajaran guru, komite sekolah, hingga siswa-siswi yang antusias, suasana sederhana itu berubah menjadi penuh makna. Di tengah keterbatasan fasilitas listrik yang masih kerap padam dan internet yang belum sepenuhnya stabil SD Negeri Joho justru menyimpan cahaya yang tak redup.
Dan cahaya itu bernama Salsa.
Siswi kecil itu berhasil meraih Juara 1 lomba bertutur tingkat kabupaten. Prestasi yang mungkin terdengar biasa di kota besar, namun di tempat sejauh ini, ia menjelma menjadi simbol yang luar biasa. “Orang boleh mengatakan sekolahmu di gunung, sekolahmu di pelosok. Tapi dari pelosok ternyata muncul sebuah bintang,” ujar Mbak Esti, dengan nada yang tak sekadar mengapresiasi, tetapi juga menguatkan.
Kalimat itu seperti menembus batas-batas geografis yang selama ini melekat pada stigma daerah terpencil. Salsa bukan sekadar pemenang lomba ia adalah bukti hidup bahwa mimpi tidak pernah mengenal alamat. Di hadapan para siswa, Mbak Esti mengibaratkan mereka sebagai bintang-bintang kecil yang suatu hari akan bersinar terang. Memberi cahaya bagi keluarga, masyarakat, bahkan bangsa. Pesannya sederhana, tapi menghunjam: jangan pernah merasa kecil hanya karena berasal dari tempat yang jauh dari sorotan.
Kisah itu terasa semakin personal ketika ia mengingat asal-usulnya. Ia bercerita tentang masa kecil di kawasan lereng Gunung Merapi, yang lekat dengan sosok legendaris Mbah Marijan. Dari sana, ia belajar bahwa anak-anak dari daerah pegunungan punya daya juang yang tak bisa diremehkan. Namun di balik optimisme itu, ada catatan penting yang tak luput dari sorotan. Akses listrik dan internet masih menjadi pekerjaan rumah besar. Di era digital, keterbatasan ini bisa menjadi jurang ketertinggalan jika tak segera dijembatani.

Kunjungan itu pun berakhir, tetapi gaungnya tak berhenti di halaman sekolah. Ia tertinggal di ruang-ruang kelas, di wajah-wajah penuh harap, dan di mimpi-mimpi yang perlahan mulai menemukan bentuknya. Di balik bangunan yang telah direvitalisasi, SD Negeri Joho kini menyimpan sesuatu yang lebih kuat dari sekadar fasilitas: keyakinan.
Bahwa di antara deretan bangku kayu yang sederhana, mungkin ada banyak ’Salsa’ lain yang sedang menunggu waktunya untuk bersinar. Dan siapa tahu, dari perbukitan sunyi di selatan Gunungkidul, dunia akan menemukan bintang-bintang baru yang selama ini tersembunyi. (Red)








Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.