INILAH NARASI VISI DAN MISI CALON LURAH BANDUNG PLAYEN GUNUNGKIDUL 

Tony Kuntoro, Sunarto, dan Mawal Edi Tri Kusmantya Membawa Narasi Berbeda untuk Masa Depan Kalurahan Bandung Playen Gunungkidul. Satu kalurahan. Tiga calon. Tiga nomor urut. Dan tiga rumusan gagasan tentang bagaimana Bandung akan dibangun.

Gunungkidul TV Di tengah hamparan kehidupan masyarakat Bandung, pembangunan bukan sekadar soal jalan yang mulus atau gedung pemerintahan yang berdiri megah. Ada petani yang menunggu hasil panen. Ada pelaku UMKM yang mencari pasar. Ada anak-anak yang membutuhkan pendidikan. Ada generasi muda yang membutuhkan ruang berkreasi. Ada keluarga yang berharap pelayanan kesehatan semakin dekat.

Dan di balik semua itu, ada satu pertanyaan besar: Seperti apa Bandung yang ingin dibangun? Pertanyaan tersebut menjadi menarik ketika tiga nama resmi berada dalam kontestasi Lurah Bandung 2026.

  • Nomor urut 1: Tony Kuntoro.
  • Nomor urut 2: Sunarto, S.ST.
  • Nomor urut 3: Mawal Edi Tri Kusmantya.

Ketiganya membawa visi dan misi masing-masing. Bukan sekadar rangkaian kata dalam poster, tetapi sebuah gambaran tentang arah pembangunan yang mereka tawarkan kepada masyarakat.

Calon Lurah Nomor Urut 1 Tony Kuntoro

Dari Digitalisasi Pemerintahan hingga Wisata Desa Tony Kuntoro membawa visi Mewujudkan Desa Bandung yang maju, mandiri, sejahtera, religius dan berkelanjutan berbasis pertanian, UMKM, dan wisata desa.

Dari visi tersebut, gagasan pembangunan kemudian melebar ke sejumlah sektor. Salah satu yang menonjol adalah tata kelola pemerintahan. Tony menawarkan pemerintahan yang transparan dan akuntabel dengan pelayanan cepat serta pemanfaatan teknologi digital. Dengan gagasan ini, kantor pemerintahan tidak hanya diposisikan sebagai tempat mengurus administrasi, tetapi juga sebagai ruang pelayanan yang mengikuti perkembangan teknologi. Namun pembangunan tidak berhenti di balik meja pelayanan.

Ekonomi masyarakat menjadi bagian penting lainnya. Pertanian, peternakan, BUMKal dan UMKM menjadi sektor yang hendak diperkuat. Harapannya, potensi ekonomi lokal tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memiliki peluang berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas. Kemudian ada infrastruktur. Jalan, air bersih, irigasi hingga akses internet masuk dalam agenda pembangunan. Sementara sektor kesehatan dan pendidikan mendapat perhatian melalui penguatan layanan kesehatan serta pencegahan stunting.

Generasi muda juga memperoleh ruang dalam gagasan Tony melalui agenda kepemudaan dan olahraga, termasuk penyediaan sarana olahraga serta ruang kreativitas. Dan di ujung rangkaian agenda tersebut, terdapat lingkungan, wisata desa dan budaya lokal. Dari pemerintahan digital sampai wisata desa, gagasan Tony mencoba menghubungkan banyak sektor dalam satu narasi pembangunan.

Calon Lurah Nomor Urut 2 — Sunarto, S.st.

Visi: Mbangun Bandung Ngasi Wangun. Jika Tony membawa narasi pembangunan yang merentang dari digitalisasi hingga wisata, Sunarto, S.ST. hadir dengan sebuah slogan yang singkat dan mudah diingat: “Mbangun Bandung Ngasi Wangun.”

Dalam visi dan misi yang disampaikan, Sunarto menawarkan visi mewujudkan Kalurahan Bandung yang maju, mandiri, sejahtera dan berbudaya. Pemerintahan yang bersih dan transparan menjadi salah satu fondasinya. Pelayanan kepada masyarakat menjadi titik perhatian. Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan dalam lima misi.

Pertama, meningkatkan pelayanan publik agar cepat dan dekat dengan masyarakat. Kedua, mempercepat pembangunan infrastruktur secara merata. Ketiga, meningkatkan ekonomi warga melalui pemberdayaan UMKM dan pertanian. Keempat, memperkuat jaminan sosial, kesehatan dan pendidikan. Kelima, menjaga budaya serta kerukunan antarwarga.

Jika diperhatikan, gagasan tersebut membawa pembangunan dari ruang pemerintahan menuju ruang kehidupan masyarakat. Ada pelayanan. Ada jalan dan infrastruktur. Ada ekonomi. Ada kesehatan dan pendidikan. Ada pula budaya dan kerukunan.

Slogan ’Mbangun Bandung Ngasi Wangun’ kemudian menjadi payung narasi pembangunan yang ditawarkan Sunarto.

Nomor 3 Mawal Edi Tri Kusmantya

Pemerintahan Bersih hingga Ketahanan Pangan. Nomor urut 3 adalah Mawal Edi Tri Kusmantya. Arah pembangunan yang ditawarkan dimulai dari satu titik penting: tata kelola pemerintahan. Visinya berbunyi: Terwujudnya pemerintahan Kalurahan yang bersih menuju Kalurahan Bandung yang maju, mandiri dan sejahtera.

Dari visi tersebut, Mawal merumuskan tujuh misi. Misi pertama menekankan pemerintahan kalurahan yang bersih, melayani dan bebas KKN. Peningkatan kapasitas pemerintah kalurahan, pengelolaan keuangan yang tertib dan akuntabel, serta pelayanan yang ramah menjadi bagian dari gagasan tersebut. Kemudian masyarakat ditempatkan sebagai bagian dari proses pembangunan.

Penguatan lembaga kemasyarakatan dan peningkatan partisipasi warga menjadi salah satu agenda. Ada pula gagasan optimalisasi Pendapatan Asli Kalurahan. Sewa tanah kas, kios kalurahan dan pengelolaan BUMKal menjadi bagian dari perhatian untuk mengoptimalkan sumber pendapatan kalurahan.

Di sektor ekonomi, Mawal memberi perhatian pada ketahanan pangan. Petani, peternak, UMKM dan potensi lokal menjadi bagian dari agenda. Termasuk pengembangan home industry serta pemanfaatan teknologi di sektor pertanian dan peternakan. Pendidikan dan kesehatan juga masuk dalam misi yang ditawarkan. Mulai dari pendidikan dasar 12 tahun, kader kesehatan, posyandu, Kader Pembangunan Manusia hingga pencegahan stunting. Sementara budaya, kebhinekaan dan toleransi ditempatkan dalam agenda sosial kemasyarakatan. Pada bagian lain, pembangunan berkelanjutan, kelestarian lingkungan dan mitigasi bencana menjadi bagian dari arah pembangunan.

Dengan demikian, gagasan Mawal bergerak dari tata kelola pemerintahan menuju ekonomi, ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, sosial budaya dan lingkungan.

Tiga Nomor, Banyak Irisan

Menariknya, meski menggunakan rumusan berbeda, terdapat sejumlah sektor yang muncul dalam gagasan ketiga calon. Pertanian, UMKM, Pelayanan masyarakat, Infrastruktur, Pendidikan, Kesehatan, Budaya, Lingkungan.

Perbedaannya berada pada bagaimana sektor-sektor tersebut dirangkai menjadi sebuah visi pembangunan. Tony menampilkan gagasan yang menghubungkan digitalisasi pemerintahan dengan pertanian, UMKM, infrastruktur, kesehatan, pendidikan, kepemudaan, lingkungan, wisata dan budaya.

Sunarto membawa slogan “Mbangun Bandung Ngasi Wangun”, dengan perhatian pada pelayanan publik, pemerataan pembangunan, ekonomi warga, jaminan sosial, kesehatan, pendidikan, budaya dan kerukunan.

Sementara Mawal memulai dari pemerintahan bersih, kemudian menghubungkannya dengan partisipasi masyarakat, pendapatan kalurahan, ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, budaya, toleransi, lingkungan dan mitigasi bencana. Tiga pendekatan. Tetapi bertemu pada sejumlah kebutuhan masyarakat yang sama.

Dari Poster Menuju Pertanyaan Publik

Di sinilah visi dan misi menjadi menarik untuk dibaca lebih jauh. Sebab sebuah visi akan menghadapi ujian ketika bertemu realitas. Pelayanan cepat, misalnya. Seberapa cepat?

Digitalisasi pemerintahan juga melahirkan pertanyaan: Layanan apa yang akan dibuat digital dan sejauh mana masyarakat dapat mengaksesnya? Ketika pertanian menjadi prioritas, pertanyaan berikutnya bisa menyentuh irigasi, teknologi, pemasaran hingga nilai tambah hasil pertanian.

Ketika UMKM hendak diperkuat, masyarakat tentu dapat melihat bagaimana gagasan mengenai modal, pelatihan, pendampingan dan pasar akan diterjemahkan. Ketika anak muda disebut dalam agenda pembangunan, ruang kreativitas seperti apa yang akan dibangun? Dan ketika budaya serta lingkungan menjadi bagian dari visi, bagaimana keduanya dapat tetap hidup di tengah perubahan zaman?

Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang membuat visi dan misi tidak berhenti sebagai tulisan di atas poster. Ia berubah menjadi bahan percakapan publik.

Bandung Dalam Tiga Cermin

Kontestasi Lurah Bandung 2026 memperlihatkan tiga nama dengan tiga rumusan gagasan.

Nomor 1 Tony Kuntoro.

Membawa narasi pembangunan yang menghubungkan pemerintahan digital dengan ekonomi, pertanian, infrastruktur, sumber daya manusia, pemuda, lingkungan, wisata dan budaya.

Nomor 2 Sunarto, S.ST.

Membawa semangat “Mbangun Bandung Ngasi Wangun”, dengan perhatian pada pelayanan, pemerataan pembangunan, ekonomi warga, layanan sosial, budaya dan kerukunan.

Nomor 3 Mawal Edi Tri Kusmantya.

Menempatkan pemerintahan bersih sebagai fondasi, kemudian menghubungkannya dengan partisipasi masyarakat, pendapatan kalurahan, ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, budaya dan pembangunan berkelanjutan.

Tiga nomor urut. Tiga narasi. Tiga cara merumuskan arah pembangunan. Namun semuanya berbicara tentang satu tempat: Kalurahan Bandung.

Ketika Gagasan Bertemu Realitas

Pada akhirnya, pembangunan tidak hanya diukur dari seberapa menarik sebuah slogan. Tidak pula berhenti pada seberapa ramai sebuah poster dibicarakan. Ukuran pembangunan akan terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pelayanan pemerintahan semakin mudah. Ketika petani memperoleh dukungan yang dibutuhkan. Ketika UMKM menemukan pasar. Ketika infrastruktur memberikan manfaat. Ketika anak-anak memperoleh pendidikan. Ketika layanan kesehatan semakin dekat. Ketika anak muda memiliki ruang untuk berkarya. Ketika budaya tetap hidup. Dan ketika lingkungan tetap terjaga.

Karena itu, visi dan misi ketiga calon dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenali gagasan yang mereka tawarkan. Masyarakat kemudian dapat mencermati lebih jauh program konkretnya, target yang ingin dicapai, kewenangan kalurahan, sumber pembiayaan, hingga bagaimana program tersebut nantinya dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan.

Sebab masa depan Bandung bukan hanya cerita tentang tiga nama yang tercetak dalam surat suara. Ia adalah cerita tentang sebuah kalurahan dan masyarakat yang akan menjalani hasil dari setiap kebijakan pembangunan.

  • Nomor 1. Tony Kuntoro.
  • Nomor 2. Sunarto, S.ST.
  • Nomor 3. Mawal Edi Tri Kusmantya.

Tiga calon. Tiga gagasan. Satu Bandung. Dan dari sinilah masyarakat dapat mulai membaca: Bandung seperti apa yang ingin mereka lihat tumbuh pada tahun-tahun mendatang? (Red)

__Terbit pada
September 20, 2026
__Kategori
News