FESTIVAL LITERASI GUNUNGKIDUL 2026 RESMI DIBUKA, BONGGOL PISANG PUN DISULAP JADI PRODUK BERNILAI

Lima hari Festival Literasi Gunungkidul menghadirkan 25 stan produk, pameran buku, karya komunitas hingga kisah literasi yang mendorong kreativitas dan kesejahteraan masyarakat.

Gunungkidul TV — Apa jadinya jika sebuah buku tidak berhenti ketika halaman terakhir ditutup? Di Gunungkidul, membaca justru menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang: melahirkan ide, menciptakan karya, menginspirasi orang lain, lalu kembali membaca untuk menemukan pengetahuan baru. Gagasan itulah yang terasa kuat dalam Festival Literasi Kabupaten Gunungkidul 2026, yang resmi dibuka di kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispussip) Kabupaten Gunungkidul, Rabu (16/9/2026).

Festival yang menjadi puncak kegiatan perpustakaan tersebut berlangsung selama lima hari, hingga Minggu (20/9/2026). Bukan sekadar menghadirkan buku dan aktivitas membaca, festival ini membawa pesan yang lebih besar: literasi harus mampu bergerak dari halaman buku menuju kehidupan nyata. Tema yang diusung pun cukup jelas ’Peran Perpustakaan dalam Mengembangkan Perubahan Melalui Literasi untuk Kesejahteraan.’

Dari membaca, mencipta, lalu menginspirasi

Kepala Dispussip Kabupaten Gunungkidul, Oneng Windu Wardana, menjelaskan bahwa literasi idealnya membentuk sebuah siklus yang tidak pernah berhenti. Dimulai dari membaca. Dari membaca lahir gagasan. Gagasan kemudian diwujudkan menjadi karya. Karya menginspirasi orang lain. Inspirasi itu kembali mendorong seseorang untuk mencari pengetahuan baru melalui bacaan. Begitu seterusnya. “Tagline-nya adalah membaca. Setelah membaca, orang akan ada cipta mencipta. Nah, setelah orang mencipta, ada menginspirasi,” kata Windu.

Menurutnya, siklus tersebut menjadi salah satu cara agar fungsi literasi benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat. Bagi Dispussip, literasi bukan sekadar membuat masyarakat semakin sering datang ke perpustakaan. Lebih jauh, literasi diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat digunakan untuk menciptakan perubahan. Windu mengajak masyarakat Gunungkidul memanfaatkan lima hari festival untuk datang, melihat berbagai karya, mengikuti kegiatan, dan menambah pengetahuan.

Harapannya sederhana, tetapi dampaknya besar: masyarakat Gunungkidul semakin literat dan mampu mengubah pengetahuan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Hal itu juga disebutnya sejalan dengan misi pembangunan daerah, termasuk semangat ’Bocah Pinter’ yang menjadi bagian dari visi pemerintah daerah.

Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku Pesan senada disampaikan Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul, Saptoyo, yang hadir mewakili Bupati Gunungkidul. Menurutnya, Festival Literasi tidak semestinya dipandang hanya sebagai agenda seremonial tahunan.

Perpustakaan, kata dia, harus terus bertransformasi menjadi ruang belajar, kreativitas, inovasi, sekaligus pemberdayaan masyarakat. Sebab di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca saja tidak lagi cukup. Masyarakat juga harus mampu memahami informasi, berpikir kritis, memilah informasi yang benar, serta menggunakan pengetahuan secara bijak. “Literasi berarti kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, memilah informasi yang benar, menggunakan pengetahuan secara bijak, serta mengubah pengetahuan menjadi gagasan dan karya yang bermanfaat,” ujar Saptoyo.

Di era ketika informasi bisa menyebar hanya dalam hitungan detik, kemampuan memilah informasi menjadi semakin penting.bMasyarakat yang literat bukan berarti masyarakat yang sekadar memiliki banyak bacaan. Lebih dari itu, masyarakat literat adalah mereka yang mampu menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, meningkatkan kualitas hidup, dan menciptakan perubahan.

25 stan, 8 penerbit, dan cerita dari berbagai sudut Gunungkidul

Jika selama ini perpustakaan identik dengan rak-rak buku yang tenang, suasana berbeda terasa di Festival Literasi Gunungkidul 2026. Sebanyak 25 stan pameran produk literasi hadir dengan melibatkan Perpuskal dan berbagai mitra Dispussip.bAda pula pameran buku dari delapan penerbit. Yang menarik, produk yang dipamerkan tidak hanya menunjukkan hasil aktivitas membaca. Ada cerita tentang kreativitas, keterampilan, potensi lokal, hingga bagaimana pengetahuan dapat menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Dr. Drs. Joko Santoso, M.Hum., yang hadir dalam pembukaan festival, bahkan melihat pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai sebuah terobosan karena mampu mempertemukan banyak pihak. Mulai BUMN hingga komunitas lokal dari berbagai wilayah Gunungkidul.

Joko mencatat sedikitnya tiga hal yang menurutnya menonjol dari festival tersebut. Pertama, aktivitas membaca yang tidak berhenti pada teks. Masyarakat tidak hanya membaca, tetapi juga belajar menuturkan kembali pengetahuan dan menuangkannya dalam karya tulis melalui bimbingan teknis kepenulisan. Kedua, kontekstualisasi dan inovasi. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan limbah bonggol pisang menjadi keripik. Sesuatu yang sebelumnya mungkin dipandang sebagai limbah, melalui pengetahuan dan kreativitas dapat berubah menjadi produk bernilai tambah. Ketiga, gerakan literasi yang menyentuh dimensi sosial dan kesejahteraan.

Literasi bahkan menjangkau warga binaan di lembaga pemasyarakatan yang tetap didorong untuk produktif dan berkarya. Di titik inilah literasi menemukan makna yang lebih luas. Bukan hanya soal apa yang seseorang baca, tetapi apa yang dilakukan setelah ia membaca. Gunungkidul dan panggung literasi hingga dunia internasional

Joko Santoso juga mengungkap bahwa praktik literasi berbasis inklusi sosial di Gunungkidul mendapat perhatian lebih luas. Gunungkidul sebelumnya dijadikan wilayah percontohan implementasi Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.

Program tersebut bahkan tidak hanya menjadi percontohan di Indonesia, tetapi juga dalam lingkup kerja sama negara-negara Selatan-Selatan melalui Project Colombo Plan yang dikelola oleh Sekretariat Negara. Dalam program tersebut, Gunungkidul pernah menjadi lokasi pembelajaran yang melibatkan delegasi dari 15 negara. Artinya, cerita tentang perpustakaan di Gunungkidul tidak berhenti di rak buku atau ruang baca.

Ia berkembang menjadi cerita tentang bagaimana pengetahuan, kreativitas, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan.bDari lomba bertutur hingga karya tulisBFestival Literasi Gunungkidul 2026 juga menjadi panggung apresiasi bagi masyarakat yang telah menunjukkan prestasi di bidang literasi.

Sejumlah pemenang lomba menerima penghargaan, antara lain:

  •  Juara 1 Lomba Bertutur: Nataline Alena Johan — SDN Baran 1 Rongkop.
  • Juara 1 Lomba Resensi: Rafika Khairunnisa Prahastiwi — SMPN 2 Wonosari.
  • Juara 1 Lomba Video Konten Literasi: Probo Dwi Atmono — Semin.
  • Juara 1 Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan: Perpustakaan Sumber Ilmu, Karangtengah, Wonosari.

Nama-nama tersebut menjadi bukti bahwa literasi memiliki banyak wajah. Ada yang berbicara melalui cerita. Ada yang menuangkan pemikiran lewat resensi. Ada yang menggunakan kamera dan media digital untuk menyampaikan pesan. Ada pula yang mengembangkan perpustakaan di tingkat desa sebagai ruang belajar masyarakat.

Buku-buku baru lahir dari Gunungkidul

Satu lagi momen penting dalam pembukaan festival adalah peluncuran sejumlah buku karya lokal. Dari hasil Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal, lahir dua buku: “Identitas Budaya Gunungkidul: dalam Dinamika Modernitas” dan “Simfoni Syukur di Tanah Karst: Antara Lanskap Geopark & Jiwa Manusia Gunungkidul.”

Sementara dari Bimtek Literasi Informasi lahir tiga buku antologi:

  • Cakrawala Literasi” untuk Angkatan I
  • Membuka Jendela Literasi” untuk Angkatan II
  • Jejak Cahaya dalam Kata” untuk Angkatan III.

Ada pula buku Jejak Literasi dalam Kata: Antologi Resensi Buku Berbasis Koleksi Perpustakaan Daerah. Buku-buku tersebut memperlihatkan satu hal penting: ketika masyarakat diberi ruang, pendampingan, dan kesempatan, pengalaman membaca dapat berubah menjadi karya yang bisa dibaca kembali oleh orang lain.

Lima hari untuk melihat wajah lain literasi

Festival Literasi Kabupaten Gunungkidul 2026 masih berlangsung hingga 20 September 2026. Beragam agenda tersedia, mulai dari pameran produk literasi, pameran buku, hingga gelar wicara bertema literasi untuk Gunungkidul maju, berbudaya, dan sejahtera. Lima hari ini pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah festival. Ia menjadi semacam pengingat bahwa perpustakaan tidak harus selalu sunyi. Perpustakaan bisa menjadi tempat lahirnya ide. Tempat orang belajar. Tempat anak-anak berani bercerita. Tempat warga mengembangkan keterampilan. Tempat komunitas bertemu. Bahkan tempat sebuah bonggol pisang yang semula dianggap limbah berubah menjadi produk bernilai. Sebab barangkali, inti dari literasi memang bukan seberapa banyak buku yang berhasil kita tamatkan.

Tetapi seberapa jauh pengetahuan yang kita dapatkan mampu mengubah cara kita melihat dunia, melahirkan karya, menginspirasi orang lain, dan pada akhirnya memberi manfaat bagi kehidupan. Dan di Gunungkidul, perjalanan itu sedang terus ditulis satu bacaan, satu gagasan, dan satu karya pada setiap langkahnya. (Red)

__Terbit pada
September 18, 2026
__Kategori
News